Secangkir Kopi dan Ceritanya

Secangkir Kopi dan Ceritanya
Dia seorang penjual kopi, dia bukan sembarang penjual kopi, matanya yang sudah merekam banyak tentang peristiwa yang menimpanya bahkan orang lain, dia penyebab kesuksesan anaknya bahkan orang yang dekat denganya, lebih mengerti seni, kata-katanya seperti berlian dan seperti kopi hangat yang sedang di seduh disaat hujan turun. Betapa banyak keping tembaga ini tak berharga kiranya,apabila di dengar dari hatinya yang berbicara sangat dalam, bagaikan mukjizat yang mengucapkan selamat datang bagi para pendengarnya. Mungkin engkau adalah sebuah pengutip hebat dari kehidupanmu,lingkungan,dan orang di dekatmu. Engkaulah penjual kopi pingiran yang selalu menjajakan kopi penuh dengan inspirasi dan kata-kata penuh dengan motivasi sehingga orang di dekatmu menjadi pribadi yang lebih baik.

Dan malam dengan kesedihan ku tengok hanya aku dan seorang penjual kopi itu, malam itu aku sadar diriku adalah kegelapan dalam rumah dan Tuhan adalah cahanya nya. Kali itu penjual kopi itu menawarkan kata-katanya padaku. Dia bicara dan tak henti-hentinya, dia seolah menangapi apa yang aku rasakan sekarang.

“Di dunia berdebu ini, berapa lamakah kau akan melumuri pakaian mu dengan kotoran, batu-batuan,dan tanah, sebagaimana seorang bocah?” Tanya Penjual kopi.
“Aku tidak mengerti apa yang di dalam perkataan mu,Bang?” Jawabku
“Kau boleh saja bersedih,semua orang boleh saja bersedih termasuk diriku dan dirimu anak muda. Kotoran, debu itu lah yang ku maksud kesedihanmu yang membuatmu merasa tak pernah nyaman. Coba mari kita tinggalkan debu dan terbang ke langit, melepaskan diri dari kesedihan itu. Capai lah yang ingin kau capai hari ini,esok, dan masa tua mu nanti,bayangkan kau akan menempati rumah-rumah yang megah bersama anak-anakmu dan istrimu yang bagaikan bidadari yang di utus menemani dalam kehidupanmu.” Tukang kopi bernasehat.

Aku tidak menjawab,aku membayangkan apa yang di bicarakan nya tadi terhadpku, ketika itu aku mulai tersadarkan kembali, mungkin saja ini yang di maksud “Setiap saat mengandung seratus pesan dari Tuhan” dan mungkin saja inilah seorang yang dapat menyejukkan ku dari belenggu asmara ku selama ini. NR.ADHIT

Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Post a comment